Jumat, 01 April 2016

“ MELAWAN TIDAK TAU”

Malam ini aku dibangunkan
Dari sebuah tidur yang lelap namun dengan mata terbuka
Malam ini aku digoncangkan
Dari ringkukan panjang yang kaku hingga beku karena ‘ketidaktauan’

Hhhhh..ternyata aku tak tau
Masih banyak hal yang aku tidak tau
Dan aku hampir tidak tau bahwa aku tidak tau
Sungguh miris- kan kawan???

Bayangkan,
Aku tidak tau ‘sejarah’ itu kawan
Aku bahkan malu pada diri sendiri mengapa aku tidak tau
“Pulau Buru” Tanah Air Beta
Pernahkah kalian dengar cerita tentang 12.000 ‘Tapol’ yang diasingkan di Pulau Buru?
Semoga aku saja yang tidak tau, begitu ucapku dalam batin.

Sejarah itu dipertontonkan dalam bungkusan film dokumenter
Karya pemuda bangsa yang ingin membayar utangnya pada sejarah
Pemuda yang gusar karena tau ada yang asing di catatan sejarah itu
Utang yang ia anggap lunas saat karya itu nyata

Kini, dihadapan kami  dia perlihatkan karya itu
Di depan beberapa pemuda-pemudi yang ingin sekedar tau atau bahkan ingin sangat tau
Meski karyanya pernah ditolak, tapi kebenaran takkan menolak bung!!!
Lihatlah di sekelilingmu, masih banyak pemuda-pemuda yang menerima karyamu.

Malam ini, karya itu tlah membelalakkan mataku dan mata mereka
Membuka katup-katup ingin tauku tuk mencongkel cerita Pulau Buru “mu”
Malam ini, kami menyaksikan
Seorang kakek yang terlihat segar dengan panggilan ‘Bung’
Ia adalah saksi sejarah tahun 65 silam itu
Kisahnya dan kisah ribuan pemuda lain di Pulau itu tlah menganga

Sebab ulah kejahilan yang positif dari seorang anak muda yang merasa punya sebuah utang bagi bangsanya
Ia berani membuka tabirnya yang selama ini tertutup dan menggelapi sebuah fakta
Berlembar-lembar catatan sejarah Pulau Buru di tahun 65.

Kini, Karya itu hadir
Karya itu lahir
Menggeliat dan keluar akibat sebuah pergolakan pemikiran.

Dan kini, karya itu tlah membayar
Meskipun “mereka-mereka” mungkin tak pernah mau membayar
Namun kami tau kawan..
Karya kalian akan mengobati sisa luka dendam pemuda-pemuda bangsa tak bersalah
Karya kalian akan membayar utang kebahagiaan anak cucu mereka
Mereka yang tak sempat kita kenal karena gugur tanpa NAMA

Mungkin catatan ini hanya segelinitir dari beberapa catatan lain yang masih tertutup oleh payung-payung kekuasaan
Tak terungkap atau bahkan tak bisa lagi diendus keberadaannya
Namun kebenaran sejarah tetaplah kebenaran
Yang akan muncul meski harus menunggu lama
Menunggu hingga ada seseorang yang tega membukanya kembali

Sejarah itu tak meminta waktunya diputar kembali
Sejarah itu tak meminta sebuah penghakiman
Sejarah itu tak meminta penghargaan materiil dari segenap kepedihannya di masa lalu.

Sama halnya dengan sejarah ini kawan..
Sejarah Pulau Buru hanya meminta sebuah kata namun beribu makna :
 “PENGAKUAN”


 Kedai Boggie, 01 April 2016
*By Faridah Hanum Rajagukguk
*Terinspirasi dari film Dokumenter “Pulau Buru Tanah Air Beta” karya Rahung Nasution

*Salam takjim untuk Bapak Astaman Hasibuan “ saksi hidup kisah Tahanan politik di Pulau Buru”

Faridah Hanum Rajagukguk: Bulan "Admirer"

Faridah Hanum Rajagukguk: Bulan "Admirer": Bulan mengintip di balik awan, Malu-malu tampakkan wajahnya dengan bentuk sabit yang tak sempurna, Bulan mengintip di balik awan, Bers...

Bulan "Admirer"




Bulan mengintip di balik awan,
Malu-malu tampakkan wajahnya dengan bentuk sabit yang tak sempurna,
Bulan mengintip di balik awan,
Bersembunyi namun cahayanya tetap menghangatkan malam

Bulan bukan tak mau beranjak dari balik tabir awan
Lantas, kenapa bulan berdiam???
Bulan pun berkata dengan isyarat cahayanya..

Saat aku setengah bersembunyi, aku tetap dapat menyinari meskipun dengan bentuk tak sempurnaku bukan?
Disaat itulah aku ingin menguji manusia
Bukankah akan lebih indah jika aku menemukan manusia yang menghargai ketidaksempurnaanku ini?
Sosok manusia itu melihatku dari bawah sana dengan mata yang berbinar sembari berkata, "Wah, bulat sabitnya menawan"..
Begitu pula saat aku tengah bulat sempurna, sosok itu berkata, " wah, bulannya bulat menawan".
Bukankah lebih bahagia jika aku mendapati sosok manusia yang bisa menemukan setiap sisi indahku dari bentuk kesempurnaan atau bahkan ketidaksempurnaan penampakanku?

Di kala aku bulat sempurna, ia elu-elukan aku,
Namun di saat aku muncul sebagian atau  tak muncul karena tertutup awan, ia malah enggan mengingat bahkan malas menungguku..
Bukan..bukan itu yang kumau.

Mungkin bulan memang sedang menguji ya..
Mungkin bulan memang sedang mencari

Menunggu lama tak mengapa baginya
Hingga waktu bersedia menjawabnya
Mempertemukan si bulan dengan pengagumnya

Dan kini terdengar bisikan lirih dari bulan
Ia berbisik diantara selisik angin malam
Bulan admirerku, temukanlah aku...


*By Faridah Hanum Rajagukguk
*Medan, 30-03-2016