Malam ini aku
dibangunkan
Dari sebuah
tidur yang lelap namun dengan mata terbuka
Malam ini aku
digoncangkan
Dari
ringkukan panjang yang kaku hingga beku karena ‘ketidaktauan’
Hhhhh..ternyata
aku tak tau
Masih banyak
hal yang aku tidak tau
Dan aku
hampir tidak tau bahwa aku tidak tau
Sungguh
miris- kan kawan???
Bayangkan,
Aku tidak tau
‘sejarah’ itu kawan
Aku bahkan
malu pada diri sendiri mengapa aku tidak tau
“Pulau Buru” Tanah Air Beta
Pernahkah
kalian dengar cerita tentang 12.000 ‘Tapol’ yang diasingkan di Pulau Buru?
Semoga aku
saja yang tidak tau, begitu ucapku dalam batin.
Sejarah itu
dipertontonkan dalam bungkusan film dokumenter
Karya pemuda
bangsa yang ingin membayar utangnya pada sejarah
Pemuda yang
gusar karena tau ada yang asing di catatan sejarah itu
Utang yang ia
anggap lunas saat karya itu nyata
Kini,
dihadapan kami dia perlihatkan karya itu
Di depan
beberapa pemuda-pemudi yang ingin sekedar tau atau bahkan ingin sangat tau
Meski karyanya
pernah ditolak, tapi kebenaran takkan menolak bung!!!
Lihatlah di
sekelilingmu, masih banyak pemuda-pemuda yang menerima karyamu.
Malam ini,
karya itu tlah membelalakkan mataku dan mata mereka
Membuka
katup-katup ingin tauku tuk mencongkel cerita Pulau Buru “mu”
Malam ini,
kami menyaksikan
Seorang kakek
yang terlihat segar dengan panggilan ‘Bung’
Ia adalah
saksi sejarah tahun 65 silam itu
Kisahnya dan
kisah ribuan pemuda lain di Pulau itu tlah menganga
Sebab ulah
kejahilan yang positif dari seorang anak muda yang merasa punya sebuah utang
bagi bangsanya
Ia berani
membuka tabirnya yang selama ini tertutup dan menggelapi sebuah fakta
Berlembar-lembar
catatan sejarah Pulau Buru di tahun 65.
Kini, Karya
itu hadir
Karya itu
lahir
Menggeliat
dan keluar akibat sebuah pergolakan pemikiran.
Dan kini,
karya itu tlah membayar
Meskipun
“mereka-mereka” mungkin tak pernah mau membayar
Namun kami
tau kawan..
Karya kalian
akan mengobati sisa luka dendam pemuda-pemuda bangsa tak bersalah
Karya kalian
akan membayar utang kebahagiaan anak cucu mereka
Mereka yang
tak sempat kita kenal karena gugur tanpa NAMA
Mungkin
catatan ini hanya segelinitir dari beberapa catatan lain yang masih tertutup
oleh payung-payung kekuasaan
Tak terungkap
atau bahkan tak bisa lagi diendus keberadaannya
Namun
kebenaran sejarah tetaplah kebenaran
Yang akan
muncul meski harus menunggu lama
Menunggu
hingga ada seseorang yang tega membukanya kembali
Sejarah itu
tak meminta waktunya diputar kembali
Sejarah itu
tak meminta sebuah penghakiman
Sejarah itu tak
meminta penghargaan materiil dari segenap kepedihannya di masa lalu.
Sama halnya
dengan sejarah ini kawan..
Sejarah Pulau
Buru hanya meminta sebuah kata namun beribu makna :
“PENGAKUAN”
*By Faridah
Hanum Rajagukguk
*Terinspirasi
dari film Dokumenter “Pulau Buru Tanah Air Beta” karya Rahung Nasution
*Salam takjim
untuk Bapak Astaman Hasibuan “ saksi hidup kisah Tahanan politik di Pulau Buru”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar